Penulis : Ummu
Rumman
MUKADIMAH
Berbicara soal
cinta, bukan hal yang tabu dalam kehidupan manusia. Bahkan perkara ini menjadi
hal yang sangat mendasar yang harus diperbincangkan, karena cinta ibarat denyut
jantung bagi kehidupan. Tidak hanya dari kalangan manusia, tapi menjangkau
dimensi kehidupan yang lebih jauh hingga ke dunia fauna.
Mungkin
sejenak kita akan beranggapan apalah mereka dibandingkan kita. Tapi lihatlah
dengan seksama, perilaku mereka bahkan lebih mengagumkan dari sekedar kisah
cinta antara Qais dan Laila.
Kupu-kupu yang berkejaran di taman bunga. Burung-burung
kecil yang berkicau di dahan dan ranting pohon. Sepasang angsa berenang
beriringan di tengah danau. Atau seekor singa yang menyusui anaknya ditengah
rimba, hanya sebagian diantara kisah cinta yang mengagumkan dari sisi tabiiyah
mereka. Insting bercinta bukan hanya milik makhluk yang berakal, namun menjadi
milik mereka pula sesuai dengan habitat dan dimensi kehidupan masing-masing.
Romantika
kehidupan dunia fauna hanya sebagai contoh yang bisa diambil ibrah bahwa
seluruh hamba difitrahkan untuk bercinta. Naluri bercinta menyentuh bukan hanya
pada sisi tabiiyah saja, tapi telah menembus hingga pada sisi ubudiyah mereka
terhadap Rabb-Nya. Burung hud-hud adalah contoh yang paling mengagumkan
diantara kisah cinta itu. Ia berpaling dari sisi ratu Saba yang menyembah
matahari menuju nabi Sulaiman 'alaihissalam, untuk mengadukan perkara yang
dilihatnya.
Seekor burung
tau bagaimana ia harus bercinta dengan Rabb-nya, bagaimana ia harus mengambil
sikap tatkala noda-noda hitam mulai mengotori kesucian cinta. Inilah kelurusan
fitrah dari makhluk yang tidak berakal, hal ini mengingatkan kita pada masa
permulaan penciptaan manusia dan jin bahkan alam semesta, untuk mengabdi kepada
Allah dengan cinta yang murni. Karena itu, Allah memilih manusia diantara
seluruh alam untuk mengemban risalah, agar mereka mendakwahkan kalimat yang haq
sebagai pondasi yang murni dalam bercinta
Kita bisa
melihat diberbagai sisi kehidupan manusia, hilangnya cinta menjadi penyebab
datangnya kesengsaraan. Kaum Nuh, 'Aad, dan Tsamud punah tak tersisa
seorang-pun akibat mereka mempermainkan cinta. Fir'aun, Hamman dan kaumnya
ditenggelamkan di laut merah, karena mereka bermain-main dengan cinta. Qarun dan
harta kekayaannya dibenamkan keperut bumi, karena dia enggan untuk bercinta.
Abu jahal, Abu Lahab, Walid ibnul Mughirah bahkan Abu Thalib menjadi
orang-orang yang paling menyesal pada hari kiyamat, karena mereka semua
melalaikan dan menodai kesucian cinta.
Jadi, cinta
itulah sumber kebahagiaan atau pangkal kesengsaraan seorang hamba. Setiap yang
melalaikan cinta, maka ia menyelisihi fitrah yang Allah fitrahkan ia untuk
berjalan diatasnya. Sikap seseorang dalam bercinta perlu diperhatikan. Dengan siapakah
ia akan bercinta dan kepada siapakah akan dipersembahkan cinta itu. Konsekuensi
dari bercinta adalah timbulnya rasa pengabdian yang murni kepada yang dicintai.
Setiap yang bercinta, seolah ia menjadi abdi bagi yang dicintai. Antara cinta
dan pengabdian ibarat seutas benang yang saling bertautan, apabila hilang salah
satunya, maka hilang pula yang lainnya. Bukankah kita pernah mendengar ucapan
seorang penyair yang berkata :
"Pengabdian dan cinta adalah untaian yang terangkai
dalam satu ikatan. Bukanlah orang yang bercinta, bila tidak memurnikan
pengabdian kepada yang dicintai. Dan bukanlah orang yang mengabdi, bila tidak
menyempurnakan cinta kepada yang dicintai."
Kafilah
orang-orang yang jatuh cinta kepada Rabb-nya, itulah kafilah orang-orang yang
beruntung. Mereka bertelekan diatas dipan-dipan saling berpandangan, tidak ada
kesedihan, kegundahan dan duka cita. Dan itulah tempat kembali bagi orang-orang
yang bertakwa.
Dengan mengharap
wajah Allah, semoga tulisan ini bermanfaat untuk saudara dan saudariku, dan
menjadi amal shaleh bagi penulis dihari yang menakutkan nanti, ketika harta dan
anak-anak tidak bermanfaat untuk menebus diri kita dari adzab Allah.
*****
Wahai
saudaraku... Manusia hidup berkabilah-kabilah dan bersuku-suku. Diatasnya
terdapat kafilah-kafilah yang berjalan mengembara. Mencari cinta dan untuk
bercinta. Merekalah para pecinta dan merekalah kafilah orang-orang yang jatuh
cinta.
Seluruh
manusia adalah kafilah dipermukaan bumi. Mereka berjalan munuju negeri
keabadian. Tidak mungkin seseorang akan sampai dinegeri nan abadi kecuali
dengan cinta. Tanpa cinta manusia akan binasa dan sengsara. Cinta adalah sumber
kebahagiaan dan dialah poros kehidupan. Karena itulah Allah menciptakan manusia
yaitu dengan tujuan untuk bercinta. Dan dosa yang paling besar adalah, dosa
orang-orang yang menduakan cinta. Firman Allah :
"Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada
Allah..." (QS.Al-Baqarah : 165)
Saudaraku...
Dua kafilah orang-orang yang bercinta pada ayat yang indah diatas ada yang
cintanya mendua, dan ada pula golongan orang-orang yang cintanya murni untuk
yang Allah sebagai Dzat yang dicinta.
Bagaimanakah
hakikat cinta tersebut? Berapa banyak-kah kafilah-kafilah orang-orang yang
jatuh cinta ini? Dan manakah cinta yang sejati dan tidak? Dan siapa pula
mereka-mereka yang boleh dicintai?
Nantikanlah kehadirannya...!!!
.jpg)
0 Response to "KAFILAH ORANG-ORANG YANG JATUH CINTA"
Posting Komentar